http://www.bungoteboekspres.com/berita-1308-liputan-penting-keselamatan-wartawan-juga-penting.html
BERADA di daerah rawan bencana adalah resiko tersendiri bagi seorang jurnalis. Dia harus mempunyai bekal yang cukup agar bisa melaporkan dan menyampaikan peristiwa secara detail, tanpa mengenyampingkan keselamatan diri.
Setidaknya, inilah yang sempat mengapung saat workshop Jurnalis Siaga Bencana Se-Indonesia, yang digelar Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) bekerjasama dengan Mercy Malaysia dan Jaringan Jurnalis SiagaBencana (JJSB) di Parai Hotel dan Resort Bukittinggi, siang kemarin.
"Untuk itu, butuh sebuah patron atau grand design peliputan yang harus disiapkan," ujar Koordinator JJSB, John Nedy Kambang.
JJSB merupakan kumpulan jurnalis Kota Padang yang terlibat dalam penanggulangan bencana. Diawal pembentukan Jejaring ini, jurnalis yang tergabung dalam JJSB telah sepakat untuk berperan aktif dalam upaya penanggulangan bencana khususnya di Kota Padang. Komitmen bersama yang dimiliki oleh JJSB tersebut merupakan salah satu kunci untuk dilibatkan dalam pengurangan risiko bencana.
Keterlibatan JJSB dalam upaya pengurangan risiko bencana di Kota Padang terlihat dalam memberikan informasi terfokus ke seluruh unsur masyarakat tentang kesiapsiagaan melalui radio siaga FM dan newsletter bulanan.
"Selain itu, JJSB dapat melakukan monitoring terkait upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang telah dilakukan pemerintah Kota Padang," ujar John.
Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas dari JJSB sendiri perlu dilakukan kesepakatan bersama jurnalis dalam merumuskan dan merangcang sebuah grand design pedoman peliputan di daerah bencana. Hal ini dirasakan perlu karena saat ini belum ada guidelines (panduan khusus) yang disepakati untuk digunakan oleh jurnalis dalam melakukan peliputan berita di daerah bencana.
Kamis, 17 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar